Tidak ada yang bisa memprediksi datangnya sebuah bencana. Begitupun dengan terjadinya perisitiwa gempa dan tsunami di Donggala pada tanggal 28 September 2018 lalu. Bencana ini tidak hanya memporak porandakan kota disekitarnya dan menelan banyak korban jiwa, tetapi juga telah melumpuhkan perekonomian sekitar. Dengan akses yang tidak bisa dijagkau pada saat itu, membuat beberapa toko bahkan mengalami kerugian besar akibat penjarahan.

Melihat momen-momen tersebut kembali mengingatkan bahwa gempa yang terjadi di Palu dan sekitarnya pada tahun lalu benar-benar membuat perekonomian melumpuh sesaat. Bahkan data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat bahwa kerugian ekonomi akibat bencana yang terjadi ini mencapai higga Rp 10 triliun. Bahkan angka tersebut diprediksi terus meningkat mengingat banyaknya infrsturktur, bangunan serta ekonomi produktif banyak yang rusak.

Pasca Bencana, Perekonomian Palu Terjun Bebas

Dengan akses yang sulit dijangkau membuat beberapa bantuan juga sangat sulit untuk tersampaikan. Oleh sebab itu, beberapa orang memilih untuk menjarah toko-toko yang masih menyisakan barag-barang yang layak digunakan. Hal inilah yang menambahkan kerugian hingga angka tertinggi. Meskipun beberapa telah mencoba membuka usahanya kembali beberapa hari pasca gempa namun harga yang diberikan tentunya sangatlah tinggi.

Bisa dibayangkan bagaimana keadaan masyarakat Palu pada waktu itu? Hanya bisa mengais sisa-sisa barang yang ada di sekitarnya dan hanya mengandalkan apa yang melekat di tubuhnya yang dibawa saat kejadian bencana berlangsung. Adapun beberapa warung makan atau toko sembako yang mulai membuka usahanya kembali dengan sisa-sisa bahan baku yang masih tersisa dan terselamatkan. Namun, harga jual yang diberikan sangatlah tinggi mengingat tak ada lagi stok barang yang masuk akibat akses yang masih terbatas pada waktu itu.

Meskipun pemerintah telah cepat tanggap menghitung cepat kerugian yang dialami di Kota Palu untuk memperbaiki perekonomian secara cepat, namun faktanya pemulihan tidak bisa serta merta dilakukan saat itu juga. Beberapa kendala, khususnya akses-akses yang tertutup harus terbuka terlebih dahulu sehingga akan jauh lebih memudahkan untuk melakukan perbaikan-perbaikan untuk pertumbuhan perekonomian Kota Palu berikutnya.

Yang menjadi sebuah kendala pada saat itu adalah sulitnya alat-alat berat yang masuk ke wilayah sekitar mengingat tsunami dan gempa berhasil memporak porandakan seisi kota tanpa ampun. Dengan akses alat berat, membuat beberapa relawan pun mengalami kesulitan dan terhambat dalam memberikan bantuan. Hal ini bahkan selaras dengan adanya peningkatan penjualan pasca gempa di Palu. Terbatasnya akses membuat aktivitas penyaluran bantuan terbatas.

Untuk memenuhi kebutuhan, beberapa usaha menawarkan barang-barang kebutuhan dengan harga yang cukup tinggi mengingat terbatasnya stok barang yang dimiliki. Itulah sebabnya bencana yang tidak dapat diprediksi ini tidak hanya memporak porandakan bangunan fisik dan menenggelamkan banyak korban jiwa. Bahkan bencana ini juga berhasil melumpuhkan perekonomian yang bahkan membuat Kota Palu menjadi seperti sebuah kota mati.

Habis Musibah, Terbitlah Semangat untuk Bangkit Kembali

Meskipun perekonimian sempat melemah pasca gempa, namun semangat untuk bangkit kembali tidak pernah padam. Bisa dilihat dari kembali bangkitnya proses jual-beli yang terjadi beberapa hari pasca gempa. Meskipun harga yang diberikan sangatlah tinggi, namun perlahan disesuaikan seiring dengan masuknya stok barang. Secara perlahan seraya akses masuk diperbaiki, masyarakat Palu mulai berbondong-bondong menghidupkan kembali perekonomian kota mereka.

Kekuatan untuk membangkitkan perekonomian secara cepat ini juga didukung oleh Presiden Joko Widodo yang menghimbau pengusaha di Palu yang masih memungkinkan untuk membuka usahanya untuk kembali aktif sesegera mungkin. Tak heran jika beberapa hari pasca gempa terjadi, perlahan beberapa aktivitas perdagangan mulai bermunculan dan bangkit meskipun harga yang diberikan jauh dari kata murah.

Seraya pemerintah merencanakan rekonstruksi kota, warga Palu dan sekitarnya memulai aktivitasnya kembali. Meskipun masih ada rasa luka dan trauma yang sangat wajar timbul akibat terjadinya bencana, masyarakat sekitar tidak mundur. Aktivitas yang mulai terlihat terjadi Pasar Masomba di Palu Selatan. Bahkan sekitar tiga belas kios sudah mulai beroperasi beberapa hari setelah bencana terjadi.

Kios-kios tersebut bahkan telah menyediakan beberapa kebutuhan pokok, seperti sayur mayur, beras, ayam, ikan dan lain sebagainya. Dengan demikian, masayarakat pun mulai berbondong-bondong untuk berbelanja sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Bisa terbilang harga jual memang sangat tinggi namun perlahan mulai stabil ke angka normal. Hal ini sejalan dengan adanya stok barang yang mulai meningkat sehingga meurunkan harga jual yang diberikan.

Semangat untuk kembali bangkit ini akan memeprcepat pemulihan perekonomian di Kota Palu dan sekitarnya. Bahkan rekonstruksi yang diberikan oleh pemerintah yang sudah dilaksanakan sejak awal tahun ini juga akan membawa dampak peningkatkan perekonomian untuk beberapa sektor di kota Palu. Jadi, Anda tidak perlu khawatir dengan bencana yang telah datang ini membawa keterpurukan dalam jangka waktu yang terlalu lama.

Selain menunggu bantuan dari pemerintah, tentunya kita bisa memberikan kontribusi penyemangat untuk membangun kembali kota yang telah porak poranda akibat gempa. Selama masyarakat sekitar mampu bergotong royong dan saling mengingatkan untuk bagkit kembali, maka peningkatan ekonomi yang sangat cepat sangat dimungkinkan untuk terjadi.

Bahkan belakangan ini perekonomian di Kota Palu sudah terlihat stabil dengan beberapa tambahan-tambahan perbaikan infrastruktur secara perlahan. Meskipun kerugian ditaksir cukup tinggi, tidak ada kata tidak mungkin untuk kembali menormalkan dan mengembalikan kerugian tersebut. Mengingat bencana tidak dapat direncanakan dan tidak ada yang mengetahui dampak pasti yang terjadi, kita tidak bisa menuntut kepada siapapun untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.

Jika bukan kita, lalu siapa lagi? Semangat untuk bangkit memang harus dimulai dari diri sendiri. Lalu, bangunlah relasi yang kuat antar masyarakat sekitar demi kepulihan kota tercinta. Serya menunggu infrastruktur pulih secara utuh dan akses masuk diperbaiki dan diperluas, memperdayakan sesuatu yang ada di sekitar bukan menjadi hal yang tidak diperbolehkan. Bahkan hanya dengan stok barang yang tersisa akan semakin mempermudah untuk bangkit kembali.

Tidak peduli berapa banyak kerugian yang dihasilkan selama kita masih mau bangkit dari keterpurukan, maka semua akan teratasi dengan lebih mudah. Sesulit apapun keadaan, tidak boleh menghalangi untuk kembali bangkit. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, beberapa aktivitas jual-beli sudah mulai terlihat beberapa hari pasca gempa. Tindakan ini menjadi awal kebangkitan perekonomian kota Palu. Dapat dilihat pula dampaknya saat ini bahwa Kota Palu berangsur membaik bahkan perekonomian semakin stabil hanya hitungan beberapa bulan pasca gempa.

Kebangkitan ini tentunya tidak serta merta muncul tanpa adanya campur tangan dari masyarakat dan pemerintah. Dengan kerja sama yang baik dan sama-sama ingin bangkit membuat kota akan memulih dengan cepat. Perekonomian perlahan akan naik seiring degan perbaikan fasilitas yang didukung oleh pemerintah.

Butuh Bantuan? Kami Siap Membantu Anda

Bella AuliaNomor Telepon : 0811168525

Hallo, Bisa Saya Bantu? 00.00

WirnaNomor Telepon : 08111789233

Halo, Ada yang bisa saya bantu? 00.00

Bapak OnyNomor Telepon : 0811189565

Hallo, Bisa Saya Bantu? 00.00

Ibu AmbarNomor Telepon : 08111789231

Hai, Ada yang bisa saya bantu? 00.00

DirmanNomor Telepon : 08111789131

Halo, Ada yang bisa saya bantu? 00.00